Sunday, May 3, 2020

Gak Enaknya Jadi Mahasiswa Tingkat Akhir Ditengah Pandemi


Tentu saja tidak bisa dipungkiri ditengah pandemi ada sejuta harap membentang bagi mahasiswa tingkat akhir. Dimulai dari lancar bimbingan skripsi/tugas akhir, penelitian, ujian akhir hingga sampai dengan proses yudisium. Tapi semua harap runtuh seketika ketika negara api pandemi menyerang.

Yang tadi rencana, strategi yang telah disusun dengan matang semua buyar hilang ditelan hiruk pikuk ketakutan akibat wabah pandemi.

Semua hanya bisa pasrah, sabar, serta ikhtiar untuk menerima kenyataan. Kenyataan yang belum ada apa-apanya dibandingkan kenyataan setelah yudisium, yang ternyata ijazah S-1 masih belum cukup dan tidak ada apa-apanya. Terdengar sedikit pesimis mungkin, tapi ini lah adanya.

Didalam kesusahan pasti selalu saja ada kemudahan, dan benar saja berbagai kemudahan-kemudahan datang, seperti diberikannya subsidi kuota data internet, bimbingan, seminar, ujian via daring, dan atau bahkan ditiadakannya skripsi yang diganti dengan review/publish jurnal.

Tapi tentu saja kemudahan-kemudahan yang diberikan membikin diri menjadi terlalu nyaman, tentu harus ada usahanya juga dong, masa iya sudah diberikan kemudahan masih males-malesan ngerjain skripsinya. Sudah diberikan pisang satu tandan malah minta dibikinin kolak pisang, haduuh.

Menjadi mahasiswa tingkat akhir ditengah pandemi sendiri merupakan sebuah bentuk survival yang memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, ada sebagian mahasiswa yang masih terjebak di kosan dan dilarang pulang kampung, sudah jatuh tertimpa tangga pula, sungguh berat perjuangan. Aapalagi ditambah sedang menjalankan ibadah puasa, tentu rasa kangen tak tertahankan untuk keluarga besar dirumah apa lagi masakan ibu, huh, sungguh sulit dibayangkan.

Namun meski demikian saya tetap bersyukur karena masih bisa merasakan kehangatan menjalani puasa dirumah bersama keluarga. Karena beberapa waktu yang lewat telah menyelesaikan magang internship disalah satu perusahaan tempat saya tinggal.

Yah, apa mau dikata semua tetap harus dijalani. Walaupun terhambatnya penelitian, bimbingan, ujian serta yudisium di tahun ini, semua musti patut disyukuri dan terima dengan lapang dada.

Semoga untuk kedepan wabah cepat berlalu dan semua berjalan normal kembali. Hingga nantinya semua target, rencana, dan segala bentuk harap-harap yang gagal dapat segera terpenuhi. 
Previous Post
Next Post

About Author

Seorang personal blogger, yang suka menulis seputar keseharian mulai dari curhat, opini, dan bahkan adakalanya menginspirasi. Kadang juga menulis hal-hal yang absurd, dan dibumbui sedikit humor.

0 komentar: