Monday, April 27, 2020

Kalau bisa beli sendiri kenapa harus debeliin?


Beberapa waktu yang lewat pemerintah telah mewacanakan program baru bagi masyarakat indonesia yang tidak memiliki pekerjaan tetap yakni sebuah kartu yang beriisi uang, ya uang anda tidak salah dengar. Tentu ini sebuah kabar bahagia bagi penduduk indonesia termasuk saya yang ngarap-ngarap juga.

Program ini juga sempat menjadi perbincangan hangat bagi sebagian besar masyarakat, namun yang menjadi pertanyaan besar bagaimana cara pemerintah membayar gaji pengangguran sedangkan hutang negara sendiri malah bartambah banyak. Tentu saja tak habis pikir dibuatnya.

Namun sebagai warga negara yang baik tentu saja saya harus tetap berpikir positif dan turut mendukung program ini dengan semestinya. Tentu saja ini menjadi kabar bahagia untuk kita semua —jangan sambil nyanyi— yang memiliki budget minim untuk berhujat. Eh, maksud saya minim quota.

Ternyata wacana tersebut bukanlah bualan belaka karena kemarin telah launchingnya situs prakerja pemerintah yang digadang-gadangkan. Semua media baik berita di tv, maupun daring terus mempromosikan program tersebut.

Masyarakat tentu saja Antusias dan berharap untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi, apalagi pengangguran millenial. 

Bak kuaci dibelah isinya zonk, ternyata dana bantuan yang diberikan bagi para pengganguran yang digadang-gadangkan tak bisa dicairkan dan hanya sebatas voucher, dan hanya bisa digunakan untuk membeli kursus yang telah disediakan pemerintah. Tentu ini masuk akal juga mengingat nantinya uang akan disalahgunakan dan tidak digunakan dengan semestinya.

Tetapi yang tidak masuk akal harga kursus online yang ditawarkan pemerintah lebih mahal dari tempat penyedia kursus berbasis daring lain. Coba dicek diwebsite sebelah sperti udemy, fiverr learn, coursera dan macam-mcam online course lainnya, harga yang ditawarkan relatif lebih murah dibanding harga yang pemerintah tawarkan.

Apalagi ditengah pandemi ini semua orang atau bahkan hampir diseluruh belahan dunia menerapkan sistem work form home, dan mengingat ekonomi juga sedang sulit. Tentu ini bisa jadi ajang perlombaan bagi para penyedia kursus online untuk memberikan harga terbaik.

Tetapi apa mau dikata ini lah pemerintah, sudah sewajarnya kita mau tak mau harus memaklumi pemikiran elit-elit kuasa yang ternyata  pengertian 4.0 bagi mereka hanya sedangkal itu. Jika pemerintah memberikan bantuan dana prakerja berbentuk voucher dengan harga kursus selangit, kenapa harus dibelikan, kalo beli sendiri dengan harga jauh lebih murah.

Saya berharap semoga pemerintah lebih bijaksana lagi dalam merencanakan program dan menggolontarkan dana yang tidak sedikit tersebut. Tentu nantinya dana anggaran tersebut dapat disimpan untuk membayar hutang negara syukur-syukur juga kalau bisa dapat membantu memberikan bantuan sembako bagi masyarakat yang membutuhkan agar lebih merata di tengah wabah pandemi ini, dari pada membuang-buang uang untuk hal yang saya rasa hanya sia-sia.
Previous Post
Next Post

About Author

Seorang personal blogger, yang suka menulis seputar keseharian mulai dari curhat, opini, dan bahkan adakalanya menginspirasi. Kadang juga menulis hal-hal yang absurd, dan dibumbui sedikit humor.

0 komentar: