Tuesday, September 17, 2019

Setelah Ini Apalagi?


Setiap tahun baik di universitas negeri maupun swasta pasti selalu melaksanakan acara-acara besar dan salah satunya yaitu wisudah. Wisudah merupakan momen yang paling dinanti setiap mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan studinya.

Acara ini diadakan bahkan hingga sampai 4 kali yakni pada bulan maret, juli. september dan desember. Tentunya tidak selalu pada bulan-bulan tersebut, setiap kampus punya jadwalnya tersendiri. Namun di antara jadwal tersebut hanya pada bulan-bulan tertentu saja yang ramai, yakni pada bulan maret dan september, kenapa? karena merupakan jadwal akitf kuliah civitas akademika.

Nah, bertepatan dengan bulan september ini, di kampus saya sedang melaksanakan acara wisudah yang terbagi menjadi 3 hari yakni sabtu s/d senin. Dan khusus untuk wisudawan fakultas teknik dilaksanakan pada hari sabtu.

Dimanapun kampusnya fakultas teknik selalu ramai pada acara wisudah. Kekompakan, kekeluargaan sangat erat di sini karena itu lah wisudawan di arak secara heboh. Kehebohan tersebut mengundang simpatisan dari pihak keluarga wisudah yang datang. Mereka berbaris melihat arak-arakan yang dilaksanakan mahasiswa fakultas teknik. Ada yang merekam, berselfie ria dan juga melihat diam sambil menikmati arak-arakan.

Terkesan heboh, sudah pasti. Rusuh, jelas tidak. Karena ini merupakan arak-arakan kebahagiaan atas pencapaian setelah lelah berjuang dari skripsian hingga mencapai puncak penghargaan yakni diwisudah.

Ada pepatah mengatakan  Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ntah lah, siapa nama pepatah yang mencentuskan ini tapi yang jelas bagi sebagian orang ada yang setuju dengan perihal tersebut.

Namun salah satu penulis buku Rolf Dobelli dalam bukunya yang berjudul The Art of Thinking Celarly yang mengatakan bahwasanya mindset tersebut merupakan bias pikiran yang buruk, karena kenapa? apa iya setiap kebahagiaan harus selalu dilewati keburukan dulu? Tapi ntahlah, kita semua dapat menilainya sendiri.

Tapi yang jelas pada momen wisudah ini kita pasti setuju dengan kata pepatah. Eh, tapi ada baiknya perlu diingat setelah datang kebahagiaan akan ada fase dimana kita bingung atau bahkan stuck dan berpikiran, setelah ini ngapain lagi?.

Setelah ini Apalagi? Tentunya ini merupakan pilihan hidup pribadi. Ada banyak opsi yang dapat dipilih, ntah itu menikah dulu baru kerja atau sebaliknya, bebisni, lanjut S2 atau bahkan nge-ojol. Namun yang pelan tapi pasti, fase ini akan datang dan hingga kondisi membuat diri harus segera memilih.

Saya pribadi ingin mengucapkan selamat atas gelar sarjananya para wisudawan/ti. Semoga dengan ilmu yang dituntut dapat membuat akal pikiran tidak mati setelah ini. Karena ijazah merupakan bukti bahwa diri pribadi pernah sekolah, tapi tidak untuk berpikir. Do'akan saya menyusul tahun depan. Setelah ini apalagi? Saya harap pribadi sudah memilih.


Previous Post
Next Post

About Author

Seorang personal blogger, yang suka menulis seputar keseharian mulai dari curhat, opini, dan bahkan adakalanya menginspirasi. Kadang juga menulis hal-hal yang absurd, dan dibumbui sedikit humor.

0 komentar: