Sunday, June 2, 2019

Solo Mudik Lewat Jalur Lintas Sumatera


Celoteh Febry - Tepat 1 minggu yang lalu saya melakukan solo mudik dari padang menuju kampung halaman saya yakni tepatnya di jambi – lebih tepatnya sih, di kabupaten Batang Hari. Mudik kali ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya saya menggunakan kendaraan roda dua kesayangan saya yang bernama sceepy – plesetan dari scoopy.

Berangkat jam 5:30 pagi atau lebih tepatnya setelah shalat subuh. Sebelumnya packing-packing sudah saya persiapkan dimalam hari. Semua saya persiapkan, apa pun itu perihal yang bersangkutan salama di perjalanan. Mulai dari hal-hal yang paling perioritas hingga barang pelengkap untuk sebagai penunjang selama diperjalanan.

Kurang lebih sekitar 10 jam perjalanan dari kota padang menuju kampung halaman. Lumayan menguras tenaga juga karena ketika siang hari jalanan terasa sangat panas sekali, ditambah juga dengan terik mata hari siang pada saat itu sedang indah-indahnya, duh, rasanya ingin saja tidur siang dikosan.

Mudik juga terasa lebih berat karena pada saat mudik saya tetap menjalankan ibadah puasa. Yah, walaupun katanya boleh tidak berpuasa selama di perjalanan. Tapi tetap niat dihati kuat untuk menjalankan puasa.

Demi tetap menjalankan ibadah puasa dan juga demi bertemu dengan keluarga tercinta dirumah. Apapun keadaannya itu saya harus tetap mudik dan tentunya beribadah, karena keluarga adalah harta yang paling berharga dan juga mengejar berkah serta ridho dari yang maha kuasa.

Di perjalanan saya selama mudik saya banyak bertemu dengan pengendara dengan plat nomor yang sama – sama-sama ber-plat nomor BH– dan tentu saja dengan arah yang sama walaupun tujuan yang berbeda. Sesama pemudik kami tak saling kenal, tetapi memainkan alunan klakson merupakan hal yang lumrah, karena sebagai tanda sapa sebagai sesama pemudik.

Ada satu kejadian sewaktu di perjalanan yang mungkin bisa dibilang paling mendebarkan karena rasanya dekat sekali dengan kematian. Pada waktu itu saya bertemu dengan pengendara labil dan tentu saja ugal-ugalan di jalan. Hampir saja pengendara tersebut bertemu malaikat izrail, tapi untung saja mungkin malaikat izrail lagi slow respon, jadi pengendara tersebut masih bisa melihat matahari esok hari.

Kronologisnya begini, jadi, pengendara tersebut ngebut dan nekat mendahului mobil truk yang ada didepannya dan kebetulan jalan didepan itu tikungan, ntah, mungkin nggak sabaran atau memang punya nyawa sembilan, ia nekat mendahului. Padahal pada saat itu benar titik buta untuk mendahului kendaraan yang ada didepan.

Dan tentu saja seperti yang bisa di tebak, dari arah berlawanan ada mobil truk lain muncul, sontak pengendara tadi  rem mendadak dan akhirnya terjatuh dari motor hingga terguling di jalan. Untung saja pengemudi truk masih sempat untuk menginjak pedal rem dan mobil masih bisa berhenti, kalo tidak, hmm, bisa langsung cod-an sama malaikat izrail.

Fyi jarak saya dari pengendara tersebut hanya beda satu motor saja, walau juga sempat terbesit di pikiran saya untuk mengikutinya. Dari kejadian tersebut saya banyak-banyak mengucap syukur karena masih belum dipertemukan sama malaikat izrail dan juga masih diberi kesempatan bertemu keluarga serta juga bisa mempublish tulisan ini.

Setelah dari kejadiaan tersebut saya jadi lebih berhati-hati dan gas tipis-tipis menuju rumah. Sambil selalu mengingat tuhan selama diperjalanan, dan juga tentunya keluarga dirumah. Dan setelah kejadian momen dramatis tersebut, kurang lebih sekitar jam 17:30 saya tiba dirumah dengan selamat – Alhamdulillah.

Buat temen-temen yang lagi dan mau mudik, safety riding, yah.



 
Foto diabadikan saat sedang beristirahat dan sampai dirumah.



Previous Post
Next Post

About Author

Seorang personal blogger, yang suka menulis seputar keseharian mulai dari curhat, opini, dan bahkan adakalanya menginspirasi. Kadang juga menulis hal-hal yang absurd, dan dibumbui sedikit humor.

0 komentar: