Monday, February 18, 2019

Ngoceh Tentang Pendidikan Di Indonesia




Lima hari yang lalu tepatnya tanggal 13 february 2019 di salah satu diskusi grup WhatsApp saya, yang sedang membahas tentang guru pembaharu. Nah, salah satu pembahasannya tentang “Guru Harus tahu Perkembangan Peserta Didik Dirumah dan Diluar Sekolah”. 

Pada sesi pembahasan tersebut salah seorang dosen bercuit tentang bahwasanya sebagai calon seorang guru nantinya kami dituntut harus mampu melihat perkembangan peserta didik, dengan maksud agar nantinya lahir guru-guru pembaharu bagi para siswanya dan juga tentunya mengerti dengan kondisi perkembangan siswa tersebut.

Dari cuitan tersebut saya merasa tidak setuju tentang apa yang dibahas, saya pikir masa sih, saya nantinya yang katanya bakal jadi calon guru—karena saya berkuliah dibidang pendidikan vokasi. Harus mampu melihat perkembangan para siswanya dirumah maupun diluar sekolah, apa iya tugas guru seribet seperti itu tanya dalam benak saya. Nah, karena rasa penasaran, saya pun ingin mendapatkan penjelasan dari dosen tersebut. 

Seperti inilah pertanyaan yang saya ajukan:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254117631265406&set=pcb.2254117657932070&type=3&theater
Sumber foto diambil di facebook salah satu dosen, dari chat grup yang capture.
Nah, tak lama kemudian saya diberikan penjelasan terkait dengan yang saya tanyakan, karena kebetulan didalam grup terdapat dua orang dosen, jadi saya serasa dikroyok, hehe. Tetapi tidak apa-apa demi ilmu pengetahuan. Seperti ini penjelasannya:







Setelah saya dapat penjelasan terkait dengan kenapa guru harus paham dengan perkembangan murid baik dirumah maupun diluar sekolah, saya tidak lupa pula untuk mengucapkan terima kasih.


         Ada alasan mengapa saya kurang setuju dengan dosen saya terkait dengan guru harus mangetahui perkembangan siswa dirumah maupun disekolah, karena dari beberapa artikel atau bahkan vidio—di channel youtube—yang saya tonton mengenai pendidikan, bahwasanya pendidikan di indonesia itu tertinggal 128 tahun dari negara-negara maju.

            Dan bahkan menurut Alfie Kohn salah satu penulis buku tentang pendidikan mengatakan bahwasanya menjadi guru bukan tentang apa yang diajarkan, tapi apa yang mereka pelajari, dan untuk mendapatkan pembelajaran yang benar siswa harus punya pilihan tentang apa yang dipelajari dan proses untuk mempelajarinya. Nah, untuk indonesia yang ingin mengejar ketertinggalannya maka pendidikan di indonesia harus fokus pada pembelajaran tersebut.
 
            Dan juga disalah satu buku karangan pramodya ananta toer ia bilang bahwasanya kaum terpelajar dari bangsa jajahan harus tahu kewajiban dan mengetahui kebutuhan negeri dan bangsanya sendiri.

            Nah, karena kita harus mengetahui apa kebutuhan kita, kita harus mencari tahu dan terus-menurus menemukan kesalahan-kesalahan apa yang kita dapat khususnya dalam proses belajar, sehingga nantinya ketika kita sudah mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut tentu saja kita tidak akan mengulanginya. Sayangnya proses belajar seperti ini tidak semua orang ingin melakukannya, dan hanya mau yang instan.

            Mungkin memang kejam jika melihat kenyataan tetapi inilah adanya, kita harus mengakui bahwasanya kita tertinggal dalam bidang pendidikan, dan bahkan juga moral. Coba kita lihat siswa zaman sekarang ada banyak sekali berita tentang penganiayaan guru, dan bahkan memperlihatkan akhlak serta moral yang terbilang sangat kurang ajar dari siswa tersebut. Kalo begini siapa yang disalahkan apa iya juga guru.

            Apa iya harus sedetail itu guru harus tahu perkembangan siswanya, di indonesia sendiri ada banyak sekali guru tapi jika dibilang dari segi kualitasnya, saya rasa belum. Bahkan dalam Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diprogramkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mencatat bahwasanya guru di indonesia tidak mampu memenuhi target nilai yang telah di tetapkan. Tentu saja ini bisa jadi acuan dari kita menilai kualitas guru di indonesia.

            Menurut saya pribadi jikalau dirumah orang tua-lah yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap proses belajarnya khususnya pendidikan moral. Nah, dan juga siswa tersebut harus memahami dirinya sendiri terkait tentang ketertarikan bidang apa yang ingin dia pelajari, tentu saja ini masih peran orang tua untuk membimbing. 

            Dan mantinya ketika siswa sudah tahu tentang keterkaitan apa yang ingin dia pelajari barulah guru dapat membimbing siswa tersebut dengan baik dan benar, seperti yang dijelaskan oleh dosen saya dari pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan juga silabus. Setelah diberi arahan siswa sendirilah yang bertanggung jawab atas ilmu yang telah dipelajarinya di sekolah serta mengembangkannya.

            Jadi intinya kalo seorang guru harus tahu perkembangan siswanya baik dirumah maupun diluar sekolah, menurut saya itu tergantung. Kenapa tergantung? Yah, jikalau gurunya ingin tahu perkembangannya otomatis guru harus bekerja lebih agar nantinya guru tidak salah kaprah terhadap perkembangan murid-muridnya disekolah. Yang jadi pertanyaan saya adakah guru yang mau seperti itu?. Jika melihat kenyataan dari gaji guru sekarang, apakah calon-calon guru pembaharu mau melakukannya saya rasa tidak.


=====================================================================
 Sumber rujukan:
http://padangkita.com/sistem-pendidikan-indonesia-tertinggal-128-tahun-dari-negara-maju/
https://news.okezone.com/read/2015/12/30/65/1277618/rata-rata-nilai-ukg-di-bawah-standar
https://www.youtube.com/watch?v=7oztFMgK0jQ&t=337s
Ananta Toer, Prmoedya, 2006, Anak Semua Bangsa, Lentera Dipantara, Jakarta Timur.
Previous Post
Next Post

About Author

Seorang personal blogger, yang suka menulis seputar keseharian mulai dari curhat, opini, dan bahkan adakalanya menginspirasi. Kadang juga menulis hal-hal yang absurd, dan dibumbui sedikit humor.

0 komentar: