Friday, November 30, 2018

Tak Gentar Hadapi Hujan, Namun Perjuangan Yang Sia-Sia

Tepat setelah ibadah shalat jum'at, kota padang diguyur dengan hujan lebat. Dan tepat dimana setelah jum'at, masih ada sisa satu mata kuliah yang harus diikuti. Dengan suasana hujan dan dingin yang menusuk ke tulang, rasa malas dalam diri pun mulai terngiang-ngiang dihati dan otak mulai menyetujui maksud keinginan hati. Dengan sikon senyaman ini, tentu saja siapa-pun makhluknya tidak akan pernah bergerak dari tempat manapun, karena kondisi seperti ini.

Saya pun sudah mulai larut didalam kenyamanan yang dibuat oleh kemalasan saya sendiri ditambah lagi dengan kondisi yang sangat mendukung sekali. Hati kecil saya yang lain bergumam 'bagaimana dengan kuliah? apa benar dengan keadaan seperti ini masih tetap kuliah?', dan otak mendukung secara penuh dan berkata 'tentu saja siapa yang mau menuntut ilmu dengan cuaca seperti ini', dan hati berkata kembali 'bagaimana jika kuliah, dan dosennya masuk apa iya? Harus ambil jatah libur?', otak dan hati mulai tak sinkron dan tentu saja otak tak mendukung dan meyakinkan sembari berkata 'tentu saja tidak kuliah, emang siapa yang mau kasih perkuliahan di cuaca seperti ini'. Memang terkadang hati, dan otak sebagai tempat berfikir, kadang tak sinkron satu sama lain. Memang terlalu banyak pertimbangan ketika mengambil sebuah keputusan, dan bahkan keputusan yang paling sepele sekalipun harus ada yang dipertimbangkan.

Banyak yang bilang jika kamu ingin sukses maka ikutilah kata hatimu. Ntah siapa yang menggagaskan kalimat tersebut dan kapan kata-kata tersebut dibuat. Tetapi yang jelas kata-kata tersebut hampir atau bahkan banyak orang yang menggunakannya sebagai bagian dari sebuah prinsip hidup yang harus diyakini. Dan saya mungkin salah satu dari sekian banyak orang tersebut.

Dengan tekad, motivasi, serta saya kumpulkan semangat dalam diri. Saya mulai mengambil keputusan sesuai dengan kata hati, yakni dengan memilih pergi kuliah. Untuk memastikan kuliah atau tidak. Walaupun kondisi yang sedang diguyur oleh hujan lebat. Namun kata hati sudah mulai mantap untuk tetap pergi. Tentu saja raga mengikuti apa yang di rasakan oleh hati.

Dengan tekad yang telah terkumpul, saya siap untuk berangkat kuliah, demi menuntut ilmu, demi membahagiakan orang tua, dan demi calon jodoh ku nantinya (efek jomblo dari lahir). Setelah saya pakai mantel, sandang tas, dengan menggunakan sendal jepit buatan jepang, dan sepatu yang telah saya taruh di dalam jok motor. Tak lupa menggunakan helm saya hidupkan motor kesayangan dan siap gas ke kampus untuk pergi menuntut ilmu.

Setelah sampai kampus, saya parkirkan motor dan lepas helm. Dengan yakin saya menuju ke kelas dengan langkah yang cepat karena saya tahu sudah terlambat. Dan belum sampai kelas saya sudah bertemu dengan salah satu teman saya dan berkata 'hari ini kita tidak kuliah tadi bapak telpon, alasannya ada urusan'. Sontak semangat langsung memudar, dengan kenyataan yang dihadapi. Namun apa daya sudah ini sudah terjadi. Kenyataan kadang lebih pahit dari sayuran pare (haha). Sebuah perjuangan, namun sia-sia.

Jadi jika diambil dari sisi postifinya , walaupun perjuangan  terkesan sia-sia. Setidaknya saya sudah berani keluar dari zona nyaman, mengikuti kata hati. Walaupun tidak mengikuti insting dan sikon yang terjadi dan demi meyakinkan kata hati. 
Kuliah Dengan Sendal Jepit :v

Bagi para pejuang sarjana, tetap semangat apapun keadaanya tetap jalani dan nikmati, walaupun kadang ada hal kecil yang sia-sia, tapi tak apalah dari pada datang penyesalan yang besar. Kan nggak enak dengar kata sesalnya *hahaha.

Semangat Kuliah! Salam Mahasiswa! *strong

Previous Post
Next Post

About Author

Seorang personal blogger, yang suka menulis seputar keseharian mulai dari curhat, opini, dan bahkan adakalanya menginspirasi. Kadang juga menulis hal-hal yang absurd, dan dibumbui sedikit humor.

0 komentar: