Thursday, January 9, 2020

Dijatuhkan Sebelum Meninggi

Dijatuhkan Sebelum Meninggi
Kemarin senin merupakan hari yang saya tunggu-tunggu. Setelah segala persiapan dan bahkan rela tak pulang ke kampung halaman. Akhirnya saya di acc seminar oleh dosen pembimbing setelah beberapa kali menghabiskan ratusan kertas.

Ada sebagian drama yang mungkin terdengar pelik. Baik dari dosen pembimbing mau pun dari dosen peninjau. Untuk dosen pembimbing, okelah aman, karena sudah sering bertemu. Dosen peninjau, nah ini yang tak habis fikir dan membuat saya sedikit kesal.

Jadi hari dimana saya melangsungkan seminar proposal dosen peninjau A tak datang dikarenakan ada rapat. Dosen pembimbing dan dosen peninjau B tetap datang, walau dosbing masuk sebentar dan kemudian keluar. Sebagai gantinya dosen peninjau B tetap didalam.

Singkat cerita seminar berakhir tepat pukul 11.15, setelah berbagai macam kendala yang telah saya lalui. Tak lama 20 menit setelahnya dosen peninjau A telah selesai juga dengan rapatnya. Berniat langsung ingin menemui beliau namun saya urungkan karena waktu sudah terlalu mepet dengan istirahat. Akhirnya saya putusakan setelah isoma (Istirahat, Solat, Makan).

Nah, penghakiman dimulai setelah saya memasuki ruanga beliau, aura intimidasi mulai terasa mencekam memenuhi seluruh ruangan. Ketika beliau memulai berbicara dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait skripsi, diawal masih bisa terjawab oleh saya namun lambat laun saya merasa berada disebuah roller coaster yang membikin kepala berputar-putar. Ntah, saya yang lelah emosi dan mental karena seminar sebelumnya atau emang saya yang agak sedikit bodoh. Saya harap mungkin tidak pada opsi kedua, hehe~

Hingga akhirnya kurang lebih selama satu jam saya berada di dalam ruangan, setelah keluar saya bingung apa yang sebenarnya yang dibacarakan didalam barusan. Setan alas memang, hingga saya pulang ke kosan hanya satu yang saya rasakan kesal membatin.

Sempat bertanya - tanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya terjadi, hingga pada akhirnya satu kesimpulan yang saya ambil "Menjatuhkan seseorang merupakan kenikmatan bagi pecundang berpangkat agar dapat merasa tinggi".

Wednesday, September 25, 2019

Berdemonstrasi


Menurut peraturan UU No 9 Tahun 1998 pada Pasal 28 yang berbunyi:

"Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang."

Dan bentuk kegiatan berdemonstrasi dapat dituangkan melalui lisan, tulisan, dan sebagiannya secara demonstratif di muka umum.[1]

Akhir-akhir ini masyarakat indonesia sedang viral dan heboh terkait dengan tersiar kabarnya Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) yang membuat masyarakat baik offline/online, wibu, kpopers, introvert, kutu buku dan hingga para mahasiswa aktivis kampus yang geram geleng-geleng kepala. 

Kenapa Demikian?

Karena isi dari rancangan serta revisi dari UU tersebut yang dinilai sangat tak logis dan bahkan bertentangan dengan kaidah atau aturan dari dasar Negara Indonesia yang demokratis dan bahkan juga penindasan terhadap kaum perempuan indonesia.

Salah satu isi dari UU tersebut yakni pada draf RKUHP yang tercantun dalam Pasal 218-2020 tentang penghinaan terhadap presiden.[2]

Pada RKUHP terhadap hukuman pada orang yang menghina presiden membuat saya geleng-geleng kapala. Apa benar mengkirtisi presiden sampai-sampai harus dibui? Tentu saja ini bertentangan dengan dasar negara Demokrasi yang terbuka untuk terbuka menyampaikan pendapat dan kritik. Lah, gimana kalau dia baper? Yang tadi niatnya untuk mengkiritik agar beliau sadar dan ingat atas kesalahan yang dibuat, malah harus di bui karena tak tahan menerima kritik dari rakyatnya. Jika ini bakal memang disahkan, maka matilah Demokrasi.

Saya sebagai mahasiswa turun kejalan melakukan demonstrasi bersama kawan-kawan dari Universitas se-Kota Padang untuk berdemonstrasi serta menanyakan dan membawa aspirasi rakyat terhadap kebijakan nyeleneh dan diluar ambang batas dasar negara Demokrasi.

Tepat pukul 10:00 WIB sesuai yang dijanjikan mahasiswa masing-masing kampus di Sumatera Barat bergegas menuju kantor DPRD untuk berdemonstrasi. Massa sudah mulai ramai, berjalan memadati ruas jalan menju tempat dengan menggunakan almamater kebanggan kampus masing-masing. Dan[pada jam 11:00 WIB massa sudah mulai memasuki kantor DPRD untuk aksi demonstrasi.[3]

Dan jujur ini baru kali kedua saya ikut aksi demo, ntah apa yang membuat hati ini menjadi tergerak. Walaupun saya datang terlambat karena ada tanggung jawab yang harus lebih dahulu diselesaikan. Sesampainya saya dilokasi massa satu persatu sudah mulai meninggalkan tempat. Tetapi dilokasi tetap ramai. Memasuki lingkungan kantor, saya menyerobot masuk dari kumpulan rekan-rekan mahasiswa untuk masuk kedalam ruangan DPRD. Iya, kantor sudah berhasil disita mahasiswa. Setelah masuk dan melihat dengan seksama saya melihat banyak sekali orang rekan-rekan mahasiswa dari mulai duduk dikursi hingga berdisi diatas meja sambil menyanyikan yang mungkin indonesia raya. Suasana panas dan pengap karena kapasitas ruangan berlebih.

Sempat saya dokumentasikan saat saya berada didalam ruangan, namun hanya sedikit yang bisa karena mengingat kapasitas penyimpanan telepon genggam saya yang tak kondusif.


Saya kecewa dengan demonstrasi hari ini, bukan karena saya datang terlambat, tapi karena kondisi demonstran yang tak lagi kondusif karena sudah mulai agresif dan anarkis. Sempat saya bertanya kepada rekan-rekan demonstran terkait dengan kebijakan dan tuntutan kita pada hari ini apakah dipenuhi. Ternyata tuntutan dari mahasiswa sudah dipenuhi oleh salah satu Wakil Dewan, malahan tuntutan sudah ditanda tangani dan langsung dikirim via pos dan menunjukkan bukti pengiriman kepada para demonstran.

Saya pikir karena tuntutan sudah dipenuhi rekan-rekan demonstran bubar dan meninggalkan lokasi, tapi apa yang terjadi mereka masuk kedalam kantor dan membuat rusuh dan anarkis, barang-barang dihancurkan, vandalisme, dan sebagiannya. Setelah mendapat jawaban tersebut dan sebelumnya sudah menanyakan ke beberapa kawan-kawan demonstran untuk kejelasan informasi agar valid, setelah didapat saya pulang dengan penuh kekecewaan.

Tuntutan sudah terpenuhi hasil tinggal menunggu. Jika tak puas dengan hasil mari diulang kembali orasi, ini tidak, malah membuat anarkis dengan penuh rasa percaya diri dan bangga.

Saya mendukung penuh untuk berdemonstrasi jika itu menuntut keadilan, menunutut aspirasi, dah hak-hak yang dirasa tak terpenuhi kepada pemerintah, tapi tidak pada anarkis. Bukannya diri ini sok suci, tapi dipikir dengan logika dan akal sehat tuntutan sudah terpenuhi dan bahkan dikirim langsung, lantas apalagi? Kenapa hati masih saja ada yang kurang, apakah demonstrasi selalu berujung anarkis dan berujung perusakan fasilitas, entahlah, mungkin kita sendiri yang dapat menilai.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Refrensi:
[1]https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5837954be4c7a/ini-demo-demo-yang-dilarang#_ftn2
[2]https://tirto.id/daftar-pasal-kontroversial-dan-bermasalah-dalam-rkuhp-eiED
[3]Instagram: InfoSumbar

Tuesday, September 17, 2019

Setelah Ini Apalagi?


Setiap tahun baik di universitas negeri maupun swasta pasti selalu melaksanakan acara-acara besar dan salah satunya yaitu wisudah. Wisudah merupakan momen yang paling dinanti setiap mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan studinya.

Acara ini diadakan bahkan hingga sampai 4 kali yakni pada bulan maret, juli. september dan desember. Tentunya tidak selalu pada bulan-bulan tersebut, setiap kampus punya jadwalnya tersendiri. Namun di antara jadwal tersebut hanya pada bulan-bulan tertentu saja yang ramai, yakni pada bulan maret dan september, kenapa? karena merupakan jadwal akitf kuliah civitas akademika.

Nah, bertepatan dengan bulan september ini, di kampus saya sedang melaksanakan acara wisudah yang terbagi menjadi 3 hari yakni sabtu s/d senin. Dan khusus untuk wisudawan fakultas teknik dilaksanakan pada hari sabtu.

Dimanapun kampusnya fakultas teknik selalu ramai pada acara wisudah. Kekompakan, kekeluargaan sangat erat di sini karena itu lah wisudawan di arak secara heboh. Kehebohan tersebut mengundang simpatisan dari pihak keluarga wisudah yang datang. Mereka berbaris melihat arak-arakan yang dilaksanakan mahasiswa fakultas teknik. Ada yang merekam, berselfie ria dan juga melihat diam sambil menikmati arak-arakan.

Terkesan heboh, sudah pasti. Rusuh, jelas tidak. Karena ini merupakan arak-arakan kebahagiaan atas pencapaian setelah lelah berjuang dari skripsian hingga mencapai puncak penghargaan yakni diwisudah.

Ada pepatah mengatakan  Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ntah lah, siapa nama pepatah yang mencentuskan ini tapi yang jelas bagi sebagian orang ada yang setuju dengan perihal tersebut.

Namun salah satu penulis buku Rolf Dobelli dalam bukunya yang berjudul The Art of Thinking Celarly yang mengatakan bahwasanya mindset tersebut merupakan bias pikiran yang buruk, karena kenapa? apa iya setiap kebahagiaan harus selalu dilewati keburukan dulu? Tapi ntahlah, kita semua dapat menilainya sendiri.

Tapi yang jelas pada momen wisudah ini kita pasti setuju dengan kata pepatah. Eh, tapi ada baiknya perlu diingat setelah datang kebahagiaan akan ada fase dimana kita bingung atau bahkan stuck dan berpikiran, setelah ini ngapain lagi?.

Setelah ini Apalagi? Tentunya ini merupakan pilihan hidup pribadi. Ada banyak opsi yang dapat dipilih, ntah itu menikah dulu baru kerja atau sebaliknya, bebisni, lanjut S2 atau bahkan nge-ojol. Namun yang pelan tapi pasti, fase ini akan datang dan hingga kondisi membuat diri harus segera memilih.

Saya pribadi ingin mengucapkan selamat atas gelar sarjananya para wisudawan/ti. Semoga dengan ilmu yang dituntut dapat membuat akal pikiran tidak mati setelah ini. Karena ijazah merupakan bukti bahwa diri pribadi pernah sekolah, tapi tidak untuk berpikir. Do'akan saya menyusul tahun depan. Setelah ini apalagi? Saya harap pribadi sudah memilih.


Tuesday, August 6, 2019

Listrik Padam Atau Mati Lampu?

Hebohnya pemadaman listrik masyarakat di pulau jawa yang terjadi baru-baru ini ,khususnya di jabodetabek menjadi hotline news sepanjang hari. Ini tentu saja banyak menimbulkan kerugian  setelah tidak punya uang untuk membeli kuota dan nyinyirin orang, eh listrik malah padam.

Pemadaman listrik yang terjadi di jakarta dan daerah sekitarnya sempat menjadi trending topik di Twitter, kenapa? karena pasalnya pemadaman listrik yang terjadi itu memakan waktu kurang lebih hampir seharian penuh.

Jika dipikir-pikir masa sih, daerah dengan penduduk terpadat di indonesia dan juga sebagai pusat pemerintahan dan juga industri ini bisa juga terjadi pemdaman listrik. Ini sebuah penghinaan yang mendalam terhadap ibukota. Pasalnya tentu saja dengan terjadinya pemadaman listrik ini sangat merugikan masyarakat perkotaan. 

Masalah pemadaman listrik tentunya tidak hanya menjadi masalah satu aspek saja dan bahkan menimbulkan masalah-masalah baru. Mulai dari matinya aliran air pdam hingga menyebabkan ikan koki piaraan mati, hingga yang paling pelik menyebabkan kebakaran rumah.

Dan tentu saja akibat dari pemadaman listrik yang terjadi ini gawai pun juga jadi ikut-ikut padam. Sebagai generasi millenial yang eksis dan kreatif dalam perpanjatan sosial, tentu saja ini benar-benar merugikan. 

Namun yang jelas pemdaman listrik ini bukanlah hal pertama yang terjadi. Tepatnya pada 18 agustus 2005, listrik sempat padam dari jawa hingga bali, karena hal tersebut kerugian yang ditimbulkan cukup membuat hati meringis karena uang kerugian belum tentu sama dengan lambe serta gayamu yang selengek-an itu.

Bahkan sampai kagetnya pemadaman yang terjadi pada tahun 2005 ini, sempat berhembus kabar bahwasnya kejadian ini ada hubungannya dengan aksi terorisme. Walau ini cuma sekedar isu belaka tentu membuat ke-parnok-an masyarakat, serta pemerintah menjadi ketar-ketir dan bikin ruwet dan mumet karena kejadian ini.

Bukan indonesia namanya kalo segala sesuatu yang terjadi nggak dikomen-in. contohnya di meme salah satu ini:

Jelas ini sedikit mengundang tawa perihal pemdaman listirik yang terjadi. Walau presiden jokowi sudah menetapkan secara sah pemindahan ibu kota ke kalimantan, tentu saja jakarta akan ditinggal dengan sejuta kenangan dan menjadi mantan—asal jangan jangan tambah cantik aja kalo ditinggalin, takutnya jadi nyesel.

Sebenarnya pemadaman listrik bagi sebagian masyarakat yang tidak tinggal dikota, itu justru biasa-biasa saja. Iya, biasa-biasa saja karena sampai biasa malahan kalo dalam seminggu listrik tidak pernah padam patut dicurigai. Mungkin masyarakat jakarta harus terbiasa dengan kejadian ini.

Tapi yang jelas namanya bukan mati lampu, tapi... Pemdaman listrik. Ingat dan camkan. Karena dengan adanya pemadaman listrik membuat lampu dirumah tidak bisa menyala. Kecuali lampu mobil, lampu motor atau lampu-lampu lain yang punya sumber dayanya masing masing, eh, hape juga ding kalo punya power bank, hehe.

Sunday, June 30, 2019

Terima, Walau Dramatis



Menjadi sendu kadang terlihat tabu untuk diterima
Untuk diterima kadang hati tak siap menerima sendu yang tabu
Namun, tegar merupakan pilihan dan suatu upaya agar hati siap terima
Dramatis, memang selayaknya hidup tak indah karenanya

          Semua pengalaman dan kisah indah ini akhirnya berujung sendu
          Sungguh berat hati melupakan perihal yang indah
          Benar semua ada akhirnya
          Walau perihal yang indah tak selamanya berakhir indah jua

Kini semua tinggal kenangan
Yang akan redup hilang tanpa bekas
Yang akan sirna hilang ditelan waktu
Dan yang akan pergi tanpa sempat mengucap

          Sungguh drama ini bagaikan sebuah cambuk
          Yang siap memecut raga dan hati hingga relung paling dalam
          Sendu akhirnya menjadi kawan dalam setiap akhir cerita
          Terima, walau dramatis

Muara Bulian, 30 Juni 2019