Friday, June 21, 2019

Kisruhnya Sidang MK Yang Membutuhkan Hiburan Guna Mencairkan Suasana


Beberapa waktu lalu — dan juga baru-baru ini — indonesia sedang dalam masa yang bisa dibilang masih cukup memanas walaupun kedepannya akan tetap dan terus memanas karena bahan bakarnya ada dimana-mana.

Bukan indonesia namanya kalau perihal berbeda pilihan atau bahkan hal yang sangat sepele tidak untuk di perdebatkan. Karena apapun itu setiap orang punya persepektif yang tentunya masing-masing pribadi berbeda dan harus dijelaskan sampai-sampai urat leher pun ikut keluar yang tentunya agar bisa dipahami orang lain yang berbeda pendapat.

Seperti yang bisa dilihat dimana-mana di media cetak,online atau bahkan sosial banyak sekali berita trending dan viral tentang masalah politik akhir-akhir ini. Yah, karena tentu saja ini tahun politik di negara +62 ini.

Tentu saja yang paling mencolok setelah pesta demokrasi yakni tentang penetapan siapa yang bakal jadi presidennya. Dan disinilah tugas mahkamah konstitusi untuk menetapkan siapa yang nantinya berhak dan bakal memimpin.

Namun proses penetapan siapa yang bakal memimpin. Heh, tidak semudah itu esmeralda. karena faktanya ada banyak tuntutan dari pihak yang bisa dibilang kalah, tak terima akan hasil tersebut. Tentu saja ibarat ijabl qabul selama kata 'Sah' masih samar kesempatan untuk menikung tetap saja bisa terjadi. Sama halnya juga dengan ini selama keputusan belum sah dan ditetapkan, hmm, apapun itu usaha untuk tetap menang harus diwujudkan sampai terjadi.

Dalam proses sidang penetapan tersebut yang notabene dengan memakan waktu yang terbilang cukup lama dan tentu saja dengan suasana serius yang dibalut dengan suasana tegang penuh emosi dan tentunya saja bikin ngantuk. Tentu saja membutuhakan sedikit hiburan untuk mencairkan suasana, yah, walaupun sulit sih. Tapi, kalo emang niat bisa sih, bikin lawakan untuk mencairkan suasana.

Tapi karena tidak suasana tidak mendukung untuk membuat lawakan dan juga kurangnya orang yang berkompoten salama sidang berlangsung maka seperti yang kita lihat dalam proses sidang tersebut ada banyak sekali lawakan sangat natural yang keluar selama proses sidang berlangsung. Mulai dari tingkah lucu saksi ahli hingga tim kuasa hukum yang merupakan fans berat komik marvel sampai-sampai mengundang ghost rider masuk kedalam sidang.

Mungkin nanti kedepannya model lawakan-lawakan natural seperti ini harus dibikinkan kurikulumnya karena sangat dibutuhkan di dunia politik indonesia biar tidak teralalu protokoler. Dan juga bisa diterapkan di perkuliahan supaya nantinya mahasiswa-mahasiswa yang kadang kerjanya suka molor dan bahkan titip absen lebih betah beralama-lama di dalam kelas. Sebelum mereka terjun kedunia politik—itupun kalo mau.

Jadi ada baiknya mulai sekarang jika ada hal-hal kisruh yang terjadi seperti ini, baiknya mengundang orang-orang yang berkompeten dibidangnya agar kedepannya suasana yang memanas dapat dicairkan secara natural. Tapi kalo ke pingin menghemat budget yah, dibikinkan kurikulumnya, hihi —eh, tapi bikin kurikulum ngeluarin budget juga kan.

Sunday, June 2, 2019

Solo Mudik Lewat Jalur Lintas Sumatera


Celoteh Febry - Tepat 1 minggu yang lalu saya melakukan solo mudik dari padang menuju kampung halaman saya yakni tepatnya di jambi – lebih tepatnya sih, di kabupaten Batang Hari. Mudik kali ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya saya menggunakan kendaraan roda dua kesayangan saya yang bernama sceepy – plesetan dari scoopy.

Berangkat jam 5:30 pagi atau lebih tepatnya setelah shalat subuh. Sebelumnya packing-packing sudah saya persiapkan dimalam hari. Semua saya persiapkan, apa pun itu perihal yang bersangkutan salama di perjalanan. Mulai dari hal-hal yang paling perioritas hingga barang pelengkap untuk sebagai penunjang selama diperjalanan.

Kurang lebih sekitar 10 jam perjalanan dari kota padang menuju kampung halaman. Lumayan menguras tenaga juga karena ketika siang hari jalanan terasa sangat panas sekali, ditambah juga dengan terik mata hari siang pada saat itu sedang indah-indahnya, duh, rasanya ingin saja tidur siang dikosan.

Mudik juga terasa lebih berat karena pada saat mudik saya tetap menjalankan ibadah puasa. Yah, walaupun katanya boleh tidak berpuasa selama di perjalanan. Tapi tetap niat dihati kuat untuk menjalankan puasa.

Demi tetap menjalankan ibadah puasa dan juga demi bertemu dengan keluarga tercinta dirumah. Apapun keadaannya itu saya harus tetap mudik dan tentunya beribadah, karena keluarga adalah harta yang paling berharga dan juga mengejar berkah serta ridho dari yang maha kuasa.

Di perjalanan saya selama mudik saya banyak bertemu dengan pengendara dengan plat nomor yang sama – sama-sama ber-plat nomor BH– dan tentu saja dengan arah yang sama walaupun tujuan yang berbeda. Sesama pemudik kami tak saling kenal, tetapi memainkan alunan klakson merupakan hal yang lumrah, karena sebagai tanda sapa sebagai sesama pemudik.

Ada satu kejadian sewaktu di perjalanan yang mungkin bisa dibilang paling mendebarkan karena rasanya dekat sekali dengan kematian. Pada waktu itu saya bertemu dengan pengendara labil dan tentu saja ugal-ugalan di jalan. Hampir saja pengendara tersebut bertemu malaikat izrail, tapi untung saja mungkin malaikat izrail lagi slow respon, jadi pengendara tersebut masih bisa melihat matahari esok hari.

Kronologisnya begini, jadi, pengendara tersebut ngebut dan nekat mendahului mobil truk yang ada didepannya dan kebetulan jalan didepan itu tikungan, ntah, mungkin nggak sabaran atau memang punya nyawa sembilan, ia nekat mendahului. Padahal pada saat itu benar titik buta untuk mendahului kendaraan yang ada didepan.

Dan tentu saja seperti yang bisa di tebak, dari arah berlawanan ada mobil truk lain muncul, sontak pengendara tadi  rem mendadak dan akhirnya terjatuh dari motor hingga terguling di jalan. Untung saja pengemudi truk masih sempat untuk menginjak pedal rem dan mobil masih bisa berhenti, kalo tidak, hmm, bisa langsung cod-an sama malaikat izrail.

Fyi jarak saya dari pengendara tersebut hanya beda satu motor saja, walau juga sempat terbesit di pikiran saya untuk mengikutinya. Dari kejadian tersebut saya banyak-banyak mengucap syukur karena masih belum dipertemukan sama malaikat izrail dan juga masih diberi kesempatan bertemu keluarga serta juga bisa mempublish tulisan ini.

Setelah dari kejadiaan tersebut saya jadi lebih berhati-hati dan gas tipis-tipis menuju rumah. Sambil selalu mengingat tuhan selama diperjalanan, dan juga tentunya keluarga dirumah. Dan setelah kejadian momen dramatis tersebut, kurang lebih sekitar jam 17:30 saya tiba dirumah dengan selamat – Alhamdulillah.

Buat temen-temen yang lagi dan mau mudik, safety riding, yah.



 
Foto diabadikan saat sedang beristirahat dan sampai dirumah.



Saturday, May 18, 2019

Kesialan Dibalik Keberuntungan


Hari ini tepatnya selepas maghrib di salah satu mesjid dekat tempat saya kos sedang diadakannya acara buka bersama. Sontak jiwa-jiwa anak kos sejati pengejar gratisan muncul untuk menghadiri acara tersebut.
                 
Setelah mandi dan prepare saya langsung menuju masjid untuk mengikuti acara buka bersama. Jarak dari kosan saya ke mesjid yakni kurang lebih yah, sekitar 700 meteran. Hitung-hitung olahraga yah, saya jalan kaki menuju mesjid.
                
Kira-kira berangkat dari kosan pukul 18:05 wib dan sampai di mesjid tepat 8 menit sebelum waktu berbuka puasa. Disana saya sudah bertemu dengan rekan – rekan kuliah, perantau, sekaligus pencari makan gratisan —yah, namanya juga anak kos.
                 
Kami pun mencari tempat duduk yang ada makanannya  kelihatan paling enak —walaupun sama aja sih sebenernya—  dan setelah itu  kami duduk bersebelahan sambil bercerita sambil menunggu adzan maghrib tiba. Setelah acara dibuka dan pemberian kata sambutan dari ketua panitia buka bersama dan dilanjutkan iringan adzan maghrib kami pun menyantap hidangan yang telah disediakan untuk membatalkan puasa.
                 
Setelah menyatap menu bukaan ringan dilanjutkan dengan solat maghrib. Saya pikir setelah solat maghrib acara selesai. Sontak saya buru-buru jalan pulang ke kos untuk makan nasi karena masih terasa lapar, hehe.
                 
Selang jarang kurang lebih 100 meter sampai di kos. Saya dengar pengumuman yang diumumkan melalui pengeras suara masjid bahwasanya akan dibagikan nasi bungkus.

Sontak keluar celetukan “ bangke ada nasi bungkus rupanya” sontak diri ini mau jalan balik ke mesjid lagi hanya demi dapat nasi bungkus, tapi jarak sudah nanggung sampai kos yah,sudah lanjutkan pulang ke kos. Dan saya yakinkan diri mungkin belum rezeki. Walaupun agak nyesek juga sih dikit, tapi tak apalah yang penting udah dapat gratisan diawal, hehe —dasar anak kosan.

Monday, April 15, 2019

Pengalaman Tukar Buku Rusak Di Gramedia


Kurang lebih sekitar hampir satu bulan ini saya tidak ada berkunjung ke toko buku, biasanya 4 minggu sekali saya pergi ke toko buku —eh sama aja— untuk menambah kelokesi buku bacaan saya. Minggu kemarin saya sempatkan diri untuk menyampangi salah satu toko buku yang ada di kota padang yaitu gramedia.

Dari kosan menuju toko buku gramedia kurang lebih,yah,sekitar 20 menitan lah. Sesampainya ditempat saya memakirkan kendraan saya di tempat parkir —ya iyalah tempat parkir— saya langsung melangkah masuk ke toko buku.

Tepatnya di lantai dua —tempat buku pengetahuan, ilmiah, dll— dan tiga —untuk novel dan komik— berbagai macam koleksi buku yang dijual mulai dari best seller hingga antah berantah sekalipun. Namun tetap bagi saya pribadi tetap mengapresiasi mereka para penulis yang telah berkarya melalui buku.

Saya berkeliling dari rak ke rak dari sudut ke sudut, namun ada satu karya yang memikat hati dan juga menjadi incaran saya yakni sebuah novel karya J.S. Khairen dengan judul "Kami (Bukan) Sarjana Kertas". Sebenarnya saya sudah lama mengintai di istagram penulisnya namun apa daya waktu itu tak ada niatan hati untuk meminang karyanya.

Dan sekarang tanpa fikir panjang pada saat itu juga saya pinang novel karangannya. Alasan saya meminang buku ini yakni  saya tertarik dengan testimoni dari yang sudah membacanya,  dan juga judulnya yang membuat saya tertarik karena dengan sikon saya saat ini, dan tentang perihal pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiran saya, mau apa saya ketika kelak sudah jadi sarjana.

Singkat cerita telah saya kupas habis buku ini hanya berjarak 6 hari setelah pembelian, dan ketika sudah berada dibab terkahir, betapa terkejutnya saya ternyata ada beberapa halaman kosong yag terdapat didalamnya, sontak tanpa pikir panjang saya langsung bergegas untuk menukar dengan yang baru.

Sempat awalnya pesimis apakah buku ini bisa di tukarkan dengan yang baru dan juga buku ini sudah dicoret-coret, tetapi dengan bermodal keyakinan dan juga saya masih menyimpan struk pembelian saya langsung berangkat.

Setelah sampai saya langsung menuju costumer service untuk menanyakan apakah buku tadi bisa diganti dengan yang baru, mbak-mbak costumer service sempat kaget dan juga sempat memberikan pernyataan sepertinya buku ini tidak bisa di ganti karena sudah dicoret. Saya sudah pasrah waktu itu, namun mbak-mbak tadi coba menelpon ke manajernya dan ternyata, jreng-jreng, buku bisa di tukar. Dalam hati saya bersyukur ternyata buku masih bisa ditukar. Dan mbak-mbak nya tadi juga bilang kesaya untung cepat datang, karena waktu penukaran sudah hampir habis dan seperti syarat penukaran yang tertera. 

Fyi untuk penukaran buku maksimal 7 hari setelah pembelian.

Saya sadar keberuntungan masih berpihak kepada saya,hehe. Mungkin lain kali, ketika mau membeli buku lagi harus cepat-cepat di baca sampai habis agar ketahuan kalo ada halaman yang rusak atau cacat,hehe —kemarin juga nggak sempat cek dulu, karena buku masih dalam plastik saya pikir aman-aman saja.

    

Beberapa halaman buku kosong.

Sunday, April 14, 2019

Bertemu Kakek Veteran Perang Ketika Travelling


Hari rabu tepatnya tanggal 3 april kemarin bertepatan dengan libur isra mi'raj saya melaksanakan perjalanan solo tavelling ke luar pulau sumatra menuju pulau jawa atau tepatnya ke tangerang. Kurang lebih sekitra 20 tahun saya hidup baru kali ini saya melakukan perjalanan terjauh seorang diri ke pulau jawa.

Perjalanan yang saya tempuh melalui jalur darat lebih tepatnya menggunakan bis antar kota antar provinsi—karena tiket peswat lagi mahal, jadi naik bis. Start perjalanan dari kota padang menuju jakarta atau tepatnya ke tangerang.

Bukan tanpa tujuan saya kesana selain solo travelling saya juga ingin menjalin silatuhrami dengan kerabat yang ada di tangerang dan juga mencari  jodoh —siapa tau ketemu hehe . Perjalanan menggunakan bis memakan waktu kurang lebih sekitar 2 hari 1 malam dari kota padang menuju tangerang.

Ada banyak cerita dalam perjalanan menuju kota tangerang. Mulai dari bertemu dengan kakek seorang veteran perang, seorang ibu dengan cucu kesayangannya hingga bapak-bapak dengan tawa yang khas sehingga menghibur seluruh penumpang bis yang ada di dalamnya.

Berbicara tentang seorang kakek mantan pejuang, saya sempat mengobrol sedikit berasamanya terkait cerita tentang masa-masa perjuangan indonesia dulu.

Dari cerita yang saya tangkap beliau dulu ketika ikut berperang melawan belanda dan jepang, beliau hampir saja terbunuh oleh salah satu dari tentara dari pasukan penjajah, namun karna nasibnya baik tak sempat ia  menyarangkan peluru di badannya, namun kebalikannya beliau lah yang dapat melumpuhkan—sempat saya merinding ketika beliau bercerita— tentara tersebut.

Saya merasakan hal yang berbeda ketika mendengar beliau bercerita tentang kisah perjuangan beliau yang terlibat langsung. Benar-benar sebuah keberuntungan dan kehormatan bagi saya pribadi bisa mendengar cerita tersebut.

FYI (for your informations) kakek ini sudah berusia 99 tahun atau lebih tepatnya beliau lahir pada tahun 1920 sebelum indoneisa merdeka, wajar saja ia ikut bergerilya dalam peperangan indonesia melawan penajajah.

Namun ada kisa pelik dan saya tak habis fikir, kenapa?, karena kakek ini berpergian sendiri menuju ibukota tanpa di temani anak-anaknya, apa lagi selama perjalanan beliau dengan keterbatasan pendengaran

Saya sempat menanyakan tujuan kakek ini ke ibukota dan dia bilang ingin bertemu anak-anaknya, tadinya saya ingin mengantarkan kakek ini ke tempat yang beliau tuju, namun karena tujuan saya dan beliau berbeda dan juga ini baru pertama kali saya ke ibukota, maka tak sampai lah niat saya.

Setelah saya tanya sana-sini ke beberapa penumang yang ada di bis untungnya ada salah seorang penumpang dengan tujuan yang sama dengan kakek ini, dan siap membantu serta mengantarkan beliau ke tempat tujuan.

Ini certia yang dapat saya sampaikan, memang tak bisa dipungkiri sejatinya selama diperjalanan ada banyak pengalaman yang tak terlupakan yang saya dapatkan mulai dari bertemu orang asing, saling mengenal, bercerita, dan masih banyak lagi yang ingin saya tulis tentang kisah perjalanan ini. Next time untuk solo tavelling yakni ke kota istimewa yang ada di indonesia.

Kakek Rustam Veteran Perang

Kartu Anggota Veteran