Saturday, May 18, 2019

Kesialan Dibalik Keberuntungan


Hari ini tepatnya selepas maghrib di salah satu mesjid dekat tempat saya kos sedang diadakannya acara buka bersama. Sontak jiwa-jiwa anak kos sejati pengejar gratisan muncul untuk menghadiri acara tersebut.
                 
Setelah mandi dan prepare saya langsung menuju masjid untuk mengikuti acara buka bersama. Jarak dari kosan saya ke mesjid yakni kurang lebih yah, sekitar 700 meteran. Hitung-hitung olahraga yah, saya jalan kaki menuju mesjid.
                
Kira-kira berangkat dari kosan pukul 18:05 wib dan sampai di mesjid tepat 8 menit sebelum waktu berbuka puasa. Disana saya sudah bertemu dengan rekan – rekan kuliah, perantau, sekaligus pencari makan gratisan —yah, namanya juga anak kos.
                 
Kami pun mencari tempat duduk yang ada makanannya  kelihatan paling enak —walaupun sama aja sih sebenernya—  dan setelah itu  kami duduk bersebelahan sambil bercerita sambil menunggu adzan maghrib tiba. Setelah acara dibuka dan pemberian kata sambutan dari ketua panitia buka bersama dan dilanjutkan iringan adzan maghrib kami pun menyantap hidangan yang telah disediakan untuk membatalkan puasa.
                 
Setelah menyatap menu bukaan ringan dilanjutkan dengan solat maghrib. Saya pikir setelah solat maghrib acara selesai. Sontak saya buru-buru jalan pulang ke kos untuk makan nasi karena masih terasa lapar, hehe.
                 
Selang jarang kurang lebih 100 meter sampai di kos. Saya dengar pengumuman yang diumumkan melalui pengeras suara masjid bahwasanya akan dibagikan nasi bungkus.

Sontak keluar celetukan “ bangke ada nasi bungkus rupanya” sontak diri ini mau jalan balik ke mesjid lagi hanya demi dapat nasi bungkus, tapi jarak sudah nanggung sampai kos yah,sudah lanjutkan pulang ke kos. Dan saya yakinkan diri mungkin belum rezeki. Walaupun agak nyesek juga sih dikit, tapi tak apalah yang penting udah dapat gratisan diawal, hehe —dasar anak kosan.

Monday, April 15, 2019

Pengalaman Tukar Buku Rusak Di Gramedia


Kurang lebih sekitar hampir satu bulan ini saya tidak ada berkunjung ke toko buku, biasanya 4 minggu sekali saya pergi ke toko buku —eh sama aja— untuk menambah kelokesi buku bacaan saya. Minggu kemarin saya sempatkan diri untuk menyampangi salah satu toko buku yang ada di kota padang yaitu gramedia.

Dari kosan menuju toko buku gramedia kurang lebih,yah,sekitar 20 menitan lah. Sesampainya ditempat saya memakirkan kendraan saya di tempat parkir —ya iyalah tempat parkir— saya langsung melangkah masuk ke toko buku.

Tepatnya di lantai dua —tempat buku pengetahuan, ilmiah, dll— dan tiga —untuk novel dan komik— berbagai macam koleksi buku yang dijual mulai dari best seller hingga antah berantah sekalipun. Namun tetap bagi saya pribadi tetap mengapresiasi mereka para penulis yang telah berkarya melalui buku.

Saya berkeliling dari rak ke rak dari sudut ke sudut, namun ada satu karya yang memikat hati dan juga menjadi incaran saya yakni sebuah novel karya J.S. Khairen dengan judul "Kami (Bukan) Sarjana Kertas". Sebenarnya saya sudah lama mengintai di istagram penulisnya namun apa daya waktu itu tak ada niatan hati untuk meminang karyanya.

Dan sekarang tanpa fikir panjang pada saat itu juga saya pinang novel karangannya. Alasan saya meminang buku ini yakni  saya tertarik dengan testimoni dari yang sudah membacanya,  dan juga judulnya yang membuat saya tertarik karena dengan sikon saya saat ini, dan tentang perihal pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiran saya, mau apa saya ketika kelak sudah jadi sarjana.

Singkat cerita telah saya kupas habis buku ini hanya berjarak 6 hari setelah pembelian, dan ketika sudah berada dibab terkahir, betapa terkejutnya saya ternyata ada beberapa halaman kosong yag terdapat didalamnya, sontak tanpa pikir panjang saya langsung bergegas untuk menukar dengan yang baru.

Sempat awalnya pesimis apakah buku ini bisa di tukarkan dengan yang baru dan juga buku ini sudah dicoret-coret, tetapi dengan bermodal keyakinan dan juga saya masih menyimpan struk pembelian saya langsung berangkat.

Setelah sampai saya langsung menuju costumer service untuk menanyakan apakah buku tadi bisa diganti dengan yang baru, mbak-mbak costumer service sempat kaget dan juga sempat memberikan pernyataan sepertinya buku ini tidak bisa di ganti karena sudah dicoret. Saya sudah pasrah waktu itu, namun mbak-mbak tadi coba menelpon ke manajernya dan ternyata, jreng-jreng, buku bisa di tukar. Dalam hati saya bersyukur ternyata buku masih bisa ditukar. Dan mbak-mbak nya tadi juga bilang kesaya untung cepat datang, karena waktu penukaran sudah hampir habis dan seperti syarat penukaran yang tertera. 

Fyi untuk penukaran buku maksimal 7 hari setelah pembelian.

Saya sadar keberuntungan masih berpihak kepada saya,hehe. Mungkin lain kali, ketika mau membeli buku lagi harus cepat-cepat di baca sampai habis agar ketahuan kalo ada halaman yang rusak atau cacat,hehe —kemarin juga nggak sempat cek dulu, karena buku masih dalam plastik saya pikir aman-aman saja.

    

Beberapa halaman buku kosong.

Sunday, April 14, 2019

Bertemu Kakek Veteran Perang Ketika Travelling


Hari rabu tepatnya tanggal 3 april kemarin bertepatan dengan libur isra mi'raj saya melaksanakan perjalanan solo tavelling ke luar pulau sumatra menuju pulau jawa atau tepatnya ke tangerang. Kurang lebih sekitra 20 tahun saya hidup baru kali ini saya melakukan perjalanan terjauh seorang diri ke pulau jawa.

Perjalanan yang saya tempuh melalui jalur darat lebih tepatnya menggunakan bis antar kota antar provinsi—karena tiket peswat lagi mahal, jadi naik bis. Start perjalanan dari kota padang menuju jakarta atau tepatnya ke tangerang.

Bukan tanpa tujuan saya kesana selain solo travelling saya juga ingin menjalin silatuhrami dengan kerabat yang ada di tangerang dan juga mencari  jodoh —siapa tau ketemu hehe . Perjalanan menggunakan bis memakan waktu kurang lebih sekitar 2 hari 1 malam dari kota padang menuju tangerang.

Ada banyak cerita dalam perjalanan menuju kota tangerang. Mulai dari bertemu dengan kakek seorang veteran perang, seorang ibu dengan cucu kesayangannya hingga bapak-bapak dengan tawa yang khas sehingga menghibur seluruh penumpang bis yang ada di dalamnya.

Berbicara tentang seorang kakek mantan pejuang, saya sempat mengobrol sedikit berasamanya terkait cerita tentang masa-masa perjuangan indonesia dulu.

Dari cerita yang saya tangkap beliau dulu ketika ikut berperang melawan belanda dan jepang, beliau hampir saja terbunuh oleh salah satu dari tentara dari pasukan penjajah, namun karna nasibnya baik tak sempat ia  menyarangkan peluru di badannya, namun kebalikannya beliau lah yang dapat melumpuhkan—sempat saya merinding ketika beliau bercerita— tentara tersebut.

Saya merasakan hal yang berbeda ketika mendengar beliau bercerita tentang kisah perjuangan beliau yang terlibat langsung. Benar-benar sebuah keberuntungan dan kehormatan bagi saya pribadi bisa mendengar cerita tersebut.

FYI (for your informations) kakek ini sudah berusia 99 tahun atau lebih tepatnya beliau lahir pada tahun 1920 sebelum indoneisa merdeka, wajar saja ia ikut bergerilya dalam peperangan indonesia melawan penajajah.

Namun ada kisa pelik dan saya tak habis fikir, kenapa?, karena kakek ini berpergian sendiri menuju ibukota tanpa di temani anak-anaknya, apa lagi selama perjalanan beliau dengan keterbatasan pendengaran

Saya sempat menanyakan tujuan kakek ini ke ibukota dan dia bilang ingin bertemu anak-anaknya, tadinya saya ingin mengantarkan kakek ini ke tempat yang beliau tuju, namun karena tujuan saya dan beliau berbeda dan juga ini baru pertama kali saya ke ibukota, maka tak sampai lah niat saya.

Setelah saya tanya sana-sini ke beberapa penumang yang ada di bis untungnya ada salah seorang penumpang dengan tujuan yang sama dengan kakek ini, dan siap membantu serta mengantarkan beliau ke tempat tujuan.

Ini certia yang dapat saya sampaikan, memang tak bisa dipungkiri sejatinya selama diperjalanan ada banyak pengalaman yang tak terlupakan yang saya dapatkan mulai dari bertemu orang asing, saling mengenal, bercerita, dan masih banyak lagi yang ingin saya tulis tentang kisah perjalanan ini. Next time untuk solo tavelling yakni ke kota istimewa yang ada di indonesia.

Kakek Rustam Veteran Perang

Kartu Anggota Veteran


Sunday, March 24, 2019

Tebar Kebaikan Bersama Komunitas "Berbagi Nasi Padang"

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu” 
(Al-Qashas: 77)

Sepenggal ayat diatas menyadarkan kita bahwasanya kita sebagai manusia tak lepas dari kehidupan sosial, serta dalam hidup ini haruslah saling berbuat baik kepada oranglain—tentunya orang yang tepat.

Banyak manusia dimuka bumi ini yang sejatinya memilki hati yang tulus dan ingin berbagi kebaikan namun kadang ada beberapa alsan yang timbul dalam hati sehingga tidak terjadinya aksi untuk berbuat kebaikan.

Sejatinya kita hidup di muka bumi harus saling berbuat baik, sebagaimana yang telah diperintah oleh ayat diatas.

Tepatnya hari minggu lalu tepatnya tanggal 17 maret 2019 saya bersama teman-teman komunitas Berbagi Nasi Padang melakukan aksi yang kami sebut dengan 'Padang Kenyang'—bagi-bagi nasi bungkus—yang di fokuskan untuk orang-orang yang membutuhkan.

Saya bersama teman-teman di komunitas membuka open donasi untuk Berbagi Nasi Padang dan setelah dana tersebut terkumpul, kami membelanjakan uang dari para donatur tersebut untuk membeli apa-apa saja yang diperlukan—nasi bungkus tentunya—dalam aksi Padang Kenyang.

Nah, setelah persiapan sudah matang, kami langsung bergerak untuk melakukan aksi. Saya bersama teman-teman komunitas memulai aksi sektitar jam lima sore, yang titik kumpulnya bertepatan di area parkir salah satu masjid yang dijadikan maskot koda padang, yaitu Mesjid Raya Padang.

Kurang lebih sekitar 185 (seratus delapan puluh lima) bungkus nasi beserta cemilan yang telah dipacking rapi siap untuk dibagikan. Kami yang terdiri dari beberapa orang dan kendaraan masing-masing langsung berpencar untuk menemukan target yang akan dibagikan.
 
Singkat certia tepat sebelum azan maghrib berkumandang saya dan bersama teman-teman sudah berhasil membagikan 185 bungkus nasi tadi—alhamdulillah pembagian berjalan dengan lancar. setelah teman-teman yang berpencar sudah berkumpul di titik temu, kami langsung menunaikan sholat maghrib dan berkumpul kembali, berbagi keluh kesah atau masalah yang dihadapi selama melakukan aksi, dan mendiskusikan kegiatan aksi selanjutnya.



(Dokumentasi Bagi-bagi Nasi Bungkus)

Saturday, March 16, 2019

Cobain Minum Susu Whey Protein


Untuk mendapatkan fisik yang prima serta menjaga kesehatan selain dari makan makanan yang sehat, harus ada aktivitas yang mendukung yakni berolahraga. Berolahraga sendiri merupakan salah bentuk aktifitas fisik yang dilakukan untuk membuat tubuh bergerak aktif sehingga menghasilkan keringat.

Nah, dalam berolahraga kita dianjurkan memakan makanan yang kaya akan protein tinggi, contoh seperti ikan, daging, telur, dan lain sebagiannya. Jika kita terlalu ribet dalam menyajikan makanan, sekarang sudah dipermudah dengan adanya susu yang proteinnya tinggi, yang biasa disebut dengan whey protein.

Bagi para fitness mania pasti sudah tahu apa itu whey protein. Biasanya para atlet menggunakan susu whey protein sebagai nutrisi penunjang dalam olahraga angkat beban. Kandungan yang terdapat pada susu whey protein itu kurang lebih sekitar 27-30 gr per 4 scoopnya.

Akhir-akhir ini saya mencoba untuk melakukan olahraga angkat beban di salah satu tempat kebugaran yang ada di kota saya tinggal. Karena dari beberapa artikel yang saya baca di internet kandungan yang terdapat dalam susu whey itu tinggi, jadinya saya berkesempatan untuk membeli susu itu sebagai penunjang saya berlatih di gym—maklum anak kosan makan suka sebarangan.

Tepatnya kemarin pada hari senin, saya membeli susu whey secara online di salah satu toko online. Selang satu hari setelah pemesanan, paket pun tiba di tempat. Saya pun membeli susu whey tersebut dengan rasa coklat, sesuai dengan rasa kesukaan saya.

Saya tidak langsung mencoba susu tersebut ketika datang, saya baru bisa mencoba susu tersebut keesokan harinya setelah habis olahraga di gym. Karena menurut beberapa riset yang saya baca meminum susu whey yang baik pada saat selepas bangun tidur atau sehabis berolahraga. Jadi saya putuskan sehabis berolahraga saja.

Setelah selesai berolahraga saya coba minum susu whey tersebut. Dalam pikir saya pasti susu ini enak apalagi rasanya coklat. Tetapi saya salah ternyata susu ini tidak berasa malahan agak pahit, dan bahkan susunya agak-agak kental. Awalnya saya enek bahkan mau hampir muntah meminumnya, tetapi setelah saya pikir-pikir jikalau saya muntah saya merasa sangat merugi—keluar mental hemat anak kosan.

Jadi susu whey bukanlah sebuah produk susu pada umumnya, apalagi kandungan yang terdapat didalamnya lebih banyak protein ketimbang susu lain. Dan ditambah lagi soal rasa yang bisa dibilang enggak enak, bagi orang awam seperti saya yang baru merasakan susu tersebut.

Tapi inilah tantangan yang harus dihadapi kalo mau punya badan ideal dan bagus kayak bang ade rai—harapannya sih gitu— biar lebih keliatan maco dan perkasa, dan disukai banyak wanita. Disukai wanita yah, bukan gender yang lain.

Sumber Foto Dari Penjual Di OlShop